Posts

Labor Story

Image
Hmm udah lama engga nulis, kangen banget. Tadi Sha baru bangun tidur sore jam 8 malem dong, jadilah sampai jam 11 matanya masih segar!  🀦🏼 Untungnya sekarang Sha udah tidur, tapi saya belum ngantuk. Jadi mau nulis aja deh. (maaf intro curhatnya panjang amat ya!  πŸ˜‚ ) Waktu hamil Sha, seinget saya engga terlalu banyak drama. Alhamdulillah semua lancar aja, walaupun di akhir trimester tiga ada sedikit drama yang bikin kebingungan juga. Salahnya saya dan suami adalah tidak mempersiapkan plan untuk lahiran caesar. Terlebih saya, saya tuh entah kenapa yakin bin kepedean akan lahiran normal dengan mulus lancar jaya.  πŸ˜‚ Sampai usia 34 minggu kehamilan, obgyn yang menangani saya, dr. Tri Yuni masih optimis saya bisa lahiran normal. Di usia 36 minggu kehamilan, ternyata posisi Sha oblig alias miring jadi posisi kepala sudah di bawah tapi engga pas di jalan lahir. dr. Yuni menyarankan saya untuk melakukan posisi sujud 10-15 menit rutin setiap hari. Saya langsung galau...

It’s two stripe!

Image
Selang beberapa minggu setelah menikah saya masuk RS karena DBD. Selain karena lagi musimnya DBD, imun tubuh saya juga lagi lemah karena kecapekan. Gimana engga capek, seminggu setelah acara resepsi di kota kelahiran saya lanjut lagi acara resepsi di kota kelahiran suami. Lalu, besoknya balik ke jakarta dan lusanya masuk kuliah.  😴 Baru hari kedua kuliah saya udah engga sanggup, mata kuliah yang kedua saya skip dan pulang. Badan rasanya menggigil, kepala berat, mual, dibawa tidur tetep engga enak. Singkat cerita saya ke dokter dekat apartemen dulu, disuruh tunggu 3 hari buat cek darah. Tapi di hari kedua, subuh-subuh saya minta ke suami buat dibawa ke RS. Engga ada makanan yang bisa masuk, bahkan minum air putih doang langsung muntah. Empat tahun lalu saya pernah kena DBD plus tipes, super trauma karena rasanya engga enak banget. Waktu sakit DBD lagi rasanya sedih, tapi semoga menjadi penggugur dosa saya. Hehe Saya dirawat di RS sekitar satu minggu dan jadi titik balik pola ...

Bumi

Dulu saya mikirnya buang sampah pada tempatnya itu udah cukup dan tanggung jawab saya udah selesai. Liat orang buang sampah sembarangan tuh sampai engga habis pikir, apa susahnya buang sampah ke tempatnya?  😭 Mei tahun lalu saya datang ke acara yang sedikit banyak mengubah mindset saya, acaranya    diadakan oleh @jakarta.greener. Saya tertarik datang karena banyak stand produk-produk organik. Kebetulan acara ini di isi juga sama beberapa komunitas, salah satunya @waste4change. Yang paling membekas dari presentasi mereka adalah video kura-kura yang hidungnya kemasukan sedotan— belakangan katanya itu ternyata potongan garpu. Entalah yang bener apa, tapi yang jelas itu plastik sekali pakai. ngeliatnya ngilu banget, kasihan, pengen nangis, ngerasa bersalah. Drama banget kan? tapi ya emang rasanya campur aduk. Mana waktu itu saya lagi pegang AMDK donggg (air minum dalam kemasan). Jleb banget!  πŸ˜‚ Makin dicari tau ternyata bahaya plastik ini banyak banget ya. M...

My Wedding Preparation

Image
Saya sangat mengimani bahwa esensi pernikahan itu bukan pada kelangsungan acara pernikahan. Walaupun saat lihat di Pinterest acara pernikahan yang rustic bikin mupeng juga. Hehe Saat merencanakan menikah saya dan suami sepakat untuk memakai uang sendiri, kami berdua engga mau membebani keluarga. Lagi pula kami sudah punya penghasilan sendiri, yaa walaupun engga seberapa. Setidaknya cukup untuk kami menghidupi diri sendiri dan menyisihkannya untuk tabungan, kami menabung dari beberapa belas bulan sebelum acara pernikahan berlangsung. Kami juga sepakat acaranya yang sederhana saja, toh tidak akan   mengurangi makna pernikahan. Berhubung kami berdua tidak berdomisili di kota berlangsungnya acara, kami menggunakan jasa WO. Tidak ada tema khusus yang kami pilih, yang penting semuanya simple tidak berlebihan. Berhubung kami sedang belajar mengurangi penggunaan plastik, jadi untuk undangan dan souvenir kami memilih yang sekiranya berguna dan minim plastik. Undangan Undan...

Ego

pada masanya saya pernah punya ego tinggi untuk memiliki. Pakaian terkini, makeup beragam, dan barang lainnya yang dibeli karena alasan ‘lucu’. Pelan-pelan saya belajar menekan ego. Belajar memahami apa dampak dari ego saya. Karena bumi ini tidak hanya tentang    saya atau kamu. Karena di bumi ini makhluk yang hidup bukan hanya saya atau kamu. Ada banyak manusia lainnya & makhluk hidup lainnya. Ada harga yang harus dibayar dari setiap barang yang coba saya miliki.

Glamping Gunung Pancar

Image
Hi! Berhubung udah janji sama diri sendiri untuk rajin nulis, jadilah hari ini saya nulis. Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya glamping tahun lalu di Gunung Pancar. Gunung Pancar letaknya di Kabupaten Bogor, tepatnya di Kecamatan Citereup. Saya dan ketiga teman saya berangkat dari derah Jakarta, lalu kami turun di stasiun Cilebut. Sesampainya di stasiun tersebut, kami disambut oleh hujan yang cukup mendaramatis perjalan kami. Lalu kami melanjutkan perjalanan dengan taksi online. Oiyaa, berhubung susah untuk mencari taksi online dari Gunung Pancar, kami meminta Bapak taksi online yang mengantar kami untuk menjemput kembali keesokan harinya dan.. syukurnya beliau berkenan. Yeay! Saya lupa tepatnya pukul berapa sudah diperbolehkan untuk check in, tapi kami tiba sekitar pukul dua. Guide menyambut kedatangan kami dan menunjukan lokasi tenda kami. Kami langsung masuk tenda, meletakkan semua barang bawaan, lalu tentunya.. ber leyeh-leyeh. Tahun 2017 hargany...

Lost not lost

Awal tahun 2016, saya baru beberapa bulan memasuki dunia kerja. Perut saya sempat sakit berulang, lucunya ternyata kata dokter penyebabnya adalah stres . Lah kok bisa stres padahal tanggung jawab kerjaan juga hampir engga ada? Nantilah kapan-kapan dibahas. Hahaha. Sejak kuliah saya termasuk golongan orang dengan belanja impulsif, apalagi waktu udah kerja makin dan makin lagi.. karena ngerasa punya penghasilan sendiri. Suombonggg! padahal gaji engga seberapa. Tujuannya apa? Untuk memuaskan nafsu dong, sis. Tapi nyatanya, nafsu itu engga akan pernah bisa terpuaskan. Lalu, datang masa di mana tanda tanya besar menghantui saya, “ tujuan hidup saya apa? ”. Iya saya tau, tujuan hidup manusia itu untuk beribadah kepada tuhan, tapi bukan itu maksud saya. Waktu itu engga tau kenapa saya jadi susah banget buat bahagia. Biasanya kalau belanja saya akan ngerasa happy, tapi kok belanja tidak semenyenangkan itu. Biasanya nongkrong sama temen saya akan ngerasa happy, tapi kok senyum da...